Semua Berpola

SEMUA BERPOLA

Semua Berpola

Sukses ada polanya, gagal juga berpola. Malas ada polanya dan rajin juga berpola. Orang kaya punya pola pikir, pola hidup dan pola tindak bagaimana agar kaya. Ternyata orang miskin juga ada polanya. Dan itu semua bisa dipelajari karena berulang-ulang.

Peselingkuh punya pola, para pelaku kriminal juga punya pola, makanya mudah untuk dilacak.
Orang yang bermulut kasar, pengumpat, pencela dan penista, juga ada polanya. Dan jika tidak dapat 'hidayah' tentu tak akan berubah dan terus berulang membuat ulah.

Bahkan pola kebangkitan dan kehancuran sebuah bangsa, negara hingga peradaban itu bisa juga diamati. Pengkhianat muncul di zaman apapun dan juga punya pola yang mirip satu sama lain.

Kalau negeri ini ada siklus 7 abad yang diidentikan dengan kemajuan berperadaban. Abad ke 7 dengan Sriwijaya, abad 14 dengan Majapahit dan abad 21 yang sudah didepan mata. Entah akan berulang atau tidak tapi ada siklus revolusi yang juga terdapat di negeri ini.

Siklus 20 tahunan!

Sebagai contoh, dulu geliat kebangkitan di mulai tahun 1905 dan tahun-tahun setelahnya. Lahirlah Serikat Dagang Islam, Muhamadiyah, Budi Utomo dan lain-lain. Lalu 20 tahun kemudian mulai bermunculan ide-ide persatuan. PNI dibentuk oleh Bung Karno, juga organisasi dan partai lainnya. Sejarah mencatat sebuah peristiwa Sumpah Pemuda sebagai tonggak revolusi berikutnya di 1928.

Kurang lebih 20 tahun berikutnya, seiring dengan meletusnya perang dunia kedua. 17 Agustus 1945 Indonesia justru dengan berani dan berbekal rahmat Allah swt memproklamirkan kemerdekaannya. Ini merupakan langkah revolusioner yang mengubah wajah negeri seketika.

20 tahun setelahnya, kembali sejarah mencatat sebuah tinta merah dalam menjaga kedaulatan bangsa. PKI sebagai perongrong persatuan dan pengkhianat bangsa yang keji berhasil ditumpas. Padahal upaya pembunuhan dan penyiksaan yang dilakukannya sudah tersendus sejak pemberontakan di Madiun tahun 1948. Tahun 1965 terjadi revolusi besar di negeri ini yang dikenal dengan Gestapu atau G30S PKI.

Masa-masa peralihan ini terus bergulir hingga tahun 70an. Bung Karno diturunkan, peristiwa Malari dan berbagai proses peralihan lainnya. Baru 20 tahun kemudian terjadilah peristiwa reformasi saat 1998. Orde baru tumbang, mahasiswa tertembak, kericuhan dan penjarahan terjadi. Memasuki orde reformasi, bukan berarti tanpa masalah. Tetap ada gejolak sana-sini namun masih bisa teratasi.

Saya coba berhitung 20 tahun setelah reformasi itu kapan. Ternyata masa-masa saat ini. Bukan sebuah kebetulan jika belakangan ini muncul sebuah gerakan revolusioner juga guna melahirkan etape kebangkitan baru. Dunia mengenal dengan aksi super damai 212 yang sangat fenomenal. Namun, belum kita lihat akan melahirkan ketentraman dan kemajuan berperadaban. Justru makin kesini bertambah kusut seolah roda zaman menggelinding ke titik klimak revolusi berikutnya.

Lalu, apa gunanya saya menulis ini? Apa untuk menakut-nakuti? Atau sebaliknya menumbuhkan harapan baru. Apapun yabg terjadi bersiaplah, karena Allah yang lebih tahu apa yang terbaik bagi bangsa ini.

Sekali-lagi, ini hanya analisa saya saja lho dengan pendekatan cocokologi. Jauh dari kajian ilmiah dan tak perlu diminta pertanggungjawaban. Karena di saat ibu pertiwi hamil tua seperti sekarang ini, apa saja bisa jadi alasan untuk kriminalisasi dan demoralisasi. Na'udzibillah...

Semoga Allah melindungi kita semua dan dikuatkan untuk menjadi saksi bagi kelahiran bayi revolusi selanjutnya.

Wallahu a'lam bishowab.

Salam spektakuler selalu!

Archan The Revolutionist


EmoticonEmoticon